Monday, September 24, 2012

Perubahan Warna Celana (1)



Single Fighter? Mungkin yang ada di pikiran kalian adalah orang yang kerjanya berantem-berantem ga jelas gitu. Bukan. Istilah “Single fighter” yang gw maksud disini adalah tentang manusia (lebih tepatnya remaja) dan berbagai rintangan yang sering dilaluinya. Disini, gue bakal cerita tentang banyak hal mengenai masalah-masalah yang dihadapi kaum gue, Remaja. Terkadang remaja tidak mau berbagi masalahnya kepada orang lain, dia hanya mau berbagi dengan orang yang benar-benar tepat. Tapi untuk mencari orang yang tepat itu, sulitnya luar biasa. Itulah mengapa remaja sering memendam sendiri masalahnya, dari situlah muncul istilah gue, Single Fighter. Masih bingung? Berikut adalah cerita mengenai para single fighters dan apa yang dilaluinya.

Perubahan warna Celana (Tahap awal Single Fighter)

                Setiap orang yang bersekolah pasti pernah ngerasain yang namanya ganti warna celana. Entah itu dari merah ke biru, biru ke abu-abu, atau dari merah ke abu-abu (?). Seiring dengan perubahan warna tadi, perubahan lingkungan juga perlahan terjadi. Beda warna celana, beda mainan. Yang dulu suka main tamiya di rumah, sekarang main mobil beneran dijalanan. Yang dulu suka main karambol diruang tamu, sekarang main billiard di bar. Yang dulu suka main kejar-kejaran, sekarang dikejar beneran (sama polisi). Perubahan warna celana pun diikuti dengan perubahan level kesulitan dalam menjalani hidup. Gua sebagai salah satu makhluk sosial yang hidup berkelompok juga merasakan perubahan warna celana tersebut.

Level Awal : Celana Merah (Sekolah Dasar)

 
Di tingkat ini, level kesulitan masih berkisar pada level 40 dari 100. Permasalahan yang dihadapi di tingkat celana merah hanyalah tentang rebutan mainan, rebutan tempat duduk, dan rebutan pacar (?!). Namun, level kesulitan buat beberapa orang yang termasuk ke golongan minoritas bisa mencapai level 50 dari 100. Kenapa? Seseorang dengan celana merah dan golongan minoritas mendapat pressure lebih dari golongan mayoritas.

Beberapa contoh pressure lebih adalah dijauhi karena agama, karena warna kulit, suku, dan berbagai hal semacamnya. Gw mengalami salah satunya. Waktu kecil, kira-kira 12 tahun lalu waktu gw masih unyu, tekanan terus dateng dari temen-temen (lebih tepatnya musuh masa kecil) dari lingkungan rumah. Pernah suatu kali gw lagi maen, tiba-tiba gw diledekin oleh salah seorang teman (kunyuk lebih tepatnya).
“eh maneh mah kristen, ulah ulin didieu maneh!” Dia bilang (Heh lo tuh kristen, ga boleh maen disini lo!).
Gw nangis dengan unyunya (tetep), sambil lari-lari ke rumah.
Pressure lain adalah saat dimana temen-temen “Celana Merah” lo mulai menyombongkan diri dengan mainan-mainan hi-tech (pada masa itu tentunya), dan lo ga punya apa-apa buat disombongkan. Ada kalanya gw merengek minta mainan-mainan mahal kaya yang dibeli ama temen-temen lain, walaupun sebenernya gw aja ga ngerti gimana cara maininnya. Tapi, dengan rasa kasihannya, bokap gw akhirnya membelikan mainan-mainan mahal itu. Hmmm.


#Rintangan awal yang harus dihadapi single fighter adalah dimana beberapa temen menolak keberadaan lo di lingkungan. Seperti karena perbedaan agama, warna kulit, dan suku.


 Level Menengah 1 : Celana Biru (Sekolah Menengah Pertama)


 Pressure buat seseorang dengan “celana biru” memiliki level kesulitan sampai ke level 60 dari 100. Masalah perbedaan warna kulit, agama, dan suku sudah mulai memudar di level ini. Namun, masalah tentang perbedaan kaya dan miskin masih muncul disini. Selain perbedaan harta (walaupun punya orang tuanya), perbedaan antara “ganteng”, “kurang ganteng”, dan “gak ganteng” serta, “cantik”, “kurang cantik”, dan “gak cantik” juga menjadi permasalahan utama (sebenarnya masalah hanya ada di kategori “gak ganteng” dan “gak cantik”). Perbedaan genre muka ini menyebabkan adanya gap yang memisahkan si “gak cantik” dan “ganteng” atau si “cantik” dan si “gak ganteng”. Gw mungkin termasuk orang yang berkategori “pas” (jelas gue gak tega bilang diri gue sendiri “kurang ganteng”). Sebagai orang kategori “pas” sendiri, untuk bersaing mendapatkan primadona sekolah merupakan hal yang susah-susah-gampang... susahnya? ya jelas buat dapetinnya itu susah banget, gampangnya? Gampang? Gak ada sama sekali gampangnya.

Handphone adalah media yang sangat ampuh di masa itu (sekarang juga sih...). DI tahun pertama gue masuk SMP, gw masih belum diizinin megang handphone. Kenapa? Tanyakan saja pada operator yang bergoyang (?). Jadi, tahun pertama gue berjalan hambar. Pernah sekali gue suka ama cewek, sebut saja Ratna. Ratna ini adalah ranking 1 dari 35-an anak di  kelas gue. Sedangkan gue? Ok Next! Ga perlu dibahas. Lanjut ke masalah gue suka ama Ratna. Karena gue masih belum punya handphone saat itu, akhirnya gue memutuskan untuk membuat surat cinta (ciyehh), dan diselipkan ke tumpukan bukunya saat Ratna tidak ada di tempat. Keesokan harinya, tiba-tiba sekolah gempar karena surat tersebut. Rupanya Ratna ingin tahu siapa orang yang menaruh surat cinta tadi. Keringet dingin gue mulai karena dia mau mencocokkan tulisan di suratnya dengan tulisan dari semua cowok di kelas gue.
            “Nah ini Ratna!” Kata Winda sambil teriak.
Seketika itu juga semua mata tertuju pada gue (Untungnya gue ga dadah-dadah sambil catwalk).
            “I..iya iii..itu aku ya..yaa..yang nulis” Gue ngomong sambil gagap.
        “CIIIIIIEEEEEEEEEEEEEEEEE” Satu kelas menyoraki gue, tadinya gw berharap kalo itu adalah sorakan kemenangan karena gue berhasil menaklukan Ratna. Harapan gue pun rusak gara-gara Ratna pergi dengan muka geram. Gue tau kalo itu adalah suatu penolakan. Sakit. Mulai saat itu, walaupun kita sekelas, gue dan Ratna tidak berkomunikasi sama sekali.

#Yang parahnya adalah lo ga punya temen buat ngebantuin lo, bahkan pada saat lo dipermaluin di depan umum.

Berlanjut ke tahun kedua gue di SMP, akhirnya Bokap dan Nyokap gue tercinta menganugerahi gue sebuah Nokia 1600 dengan ringtone dari Band Radja berjudul “Pelangi”. Gw bersyukur bisa punya handphone saat itu (Seenggaknya kalau nantinya gue ditolak, Cuma gue dan orang yang nolak yang tau). Tapi, setelah gue memiliki handphone, keadaan asmara gue (masih) belum berubah. FAK.

Namun semuanya berubah ketika negara api menyerang. Eh bukan ini! Salah Cerita! Ganti Ganti!.

Namun semuanya berubah pas gue memasuki tahun ketiga di SMP gue. Gue sekelas dengan orang-orang populer di sekolah gue, mulai dari Ketua OSIS, Atlet bola sepak, sampe orang paling pinter di sekolah gue tergabung di satu kelas, dan mungkin karena hal itu popularitas gue ikut terangkat (ciyehh). Peningkatan popularitas ini pun berpengaruh pada nilai-nilai gue, pertemanan gue, dan tentunya asmara gue (ehem!). Gue suka ama salah satu adik kelas gue, namanya Nova. Penyakit kronis gue sejak dulu adalah gak pernah berani buat ngomong langsung ama cewek. Entah kenapa, mata gue ga pernah kuat buat natap cewek dari radius kurang dari 5 meter secara langsung. Sekalipun pernah, keringet dingin pasti turun. Jadi, handphone adalah senjata utama menaklukan Nova.
            “Hai” Gue nge-SMS dengan singkat,
            “Iyach ni Cpa?” SMS balesan dari dia,
            Firasat gue buruk.
            “Ini Philip, kelas 9H, kenal gak?” Gue berusaha normal,
            “Oh iyh”
Gue tarik nafas dalam-dalam. Gak tau mau bales apa-apa lagi. Dan untuk “menyamakan persepsi”, akhirnya gue mengikuti gaya ber-SMS dia.
            “Leh knal kan yach?”
            “Owh bleh koq”
Dan beberapa lama setelah kejadian perkenalan itu, kita pun mulai deket. Entah siapa yang mulai, akhirnya kita (gue dan Nova) jadi sering berbagi keseharian, tentang sekolah, rumah, bahkan perasaan. Setelah sekian lama, gue pengen bilang kalo gue suka sama dia.
            “Nova, hmmm, kita udah kenal berapa lama sih?” Kata gue pas lagi nelpon dia
            “Ga tau deh, ada kali 6 bulan lebih mah... kenapa emang?”
            “hmmm lumayan juga ya..”
            “Iya, terus kenapa?
            “Kamu ga ngerasa ada sesuatu gitu?”

            “Maksudnya?”
            “Yaa kaya gitu, kita udah lama deket, terus kita juga sering ngobrol dalem”
            “Oh.. iya ya..”
            “Ya sekarang.. hmmm, aku mau bilang, hmmm.... aku suka sama kamu”
            Hening.
            “Aku nyaman sama kamu kak...” kata Nova
            “Ya terus?”
            “Tapi kalo buat lebih dari kakak-ade, kayanya ga bisa deh kak”
            “Hffftttt......” Gue tarik nafas dalam-dalam (lebih dari yg awal)
Dari situ gue tau kalo gue ditolak (lagi). Untungnya, itu hanya diketahui oleh kita berdua, ga separah yang pertama.
#Dan lagi-lagi banyak penolakan yang bakal dateng kepada seorang single fighter.

No comments:

Post a Comment