Banyak yang nanya ke gue, kenapa gue ngambil kuliah
shift malem. Gue jawab simpel aja,
“Gue sama
sekali gak mau ninggalin kehidupan siang gue di tempat kerja gue”
Gue kerja di salah satu radio rohani komunitas di
daerah Bekasi, Talitakum Radio namanya.
Talitakum Radio adalah radio komunitas yayasan sekolah gue. Selain
karena gue suka kerja disini, gue juga mau “pelayanan” di tempat ini. Gue suka banget kerja disini. Selain
rekan-rekan kerja yang asik (banget), disini juga gue belajar banyak hal
tentang hidup dan cara hadepinnya dari atasan gue.
Karena gue tinggal dan kerja di Bekasi, sementara
kampus gue di Jakarta, kereta api jadi pilihan utama gue buat alat
transportasi. Gue masuk kuliah jam setengah enam sore, jadi gue berangkat dari
Bekasi jam tiga-an. Karena kereta yang gue naiki adalah
kereta Commuter Line, jadi yang naek disitu beberapa adalah orang-orang
berkantong tebal (Entah tebal karna duit atau bon utang). Disitu gue liat
banyak yang asik dengan gadget-nya, Blackberry lah, iPad lah, iPhone lah… Yang
gue punya cuma Nokia e63 yang keypadnya udah mulai ngaco. Huft. #kode #minta #yangbaru
Terus gue liat anak kecil (umur 6
taunan lah) dan ibunya, masing-masing pake gadget keren. Nyokapnya pake iPad,
anaknya pake tablet apa gitu (Lupa nama mereknya). Gue tiba-tiba ke-flashback ke masa kecil dimana gue masih
seumuran anak itu.
Sekitar 12 tahun yang lalu…
“Mama,
ga berat apa bawa perut gede kaya gitu?” Tanya gue polos
“Berat
sih, kamu mau bantuin?” Jawab nyokap sambil senyum
“Enggak
ahh, berat.. isinya apa emang ma?”
“Ini
isinya ade kamu nanti, mau punya ade kan?”
“Mau
dong maa”
Tiba-tiba mama mual dan
pusing-pusing.
“Philip,
panggil papa nak..” Kata mama ditengah kesakitannya
“Iya
ma…”
Singkat cerita, nyokap dibawa ke
Rumah sakit. Menurut penuturan bokap dan nyokap gue, terjadi percakapan sebagai
berikut di rumah sakit.
“Pak,
Bu, saya punya kabar yang buruk” Kata dokter dengan muka serius
“Apa
dok?” Tanya bokap dengan serius plus panik
“Sebelumnya
mohon maaf pak, bu, saya memvonis kalau tidak ibunya, ya anaknya”
“Ibu
anak gimana dok maksudnya?!”
“Kalo
gak anaknya yang meninggal, ibunya yang meninggal” kata dokter
“Soalnya
anak ini posisinya aneh, kalo sungsang sih mending, ini posisi dia miring, dan
ga bisa keluar normal” kata dokter menjelaskan.
Kalo normal kan kepala duluan yang
keluar, kalo sungsang itu kakinya duluan. Nah kalo miring gimana keluarnya?
Huft.
Bokap langsung down, dan ga bisa
ngomong apa-apa.
Malemnya, bokap masih shock karena vonis dokter tadi. Karena
gue masih polos (dan unyu), gue pun
ga ikut-ikutan masalah mereka.
Sekitar jam 1 malem-an gue kebangun
karena denger-denger suara dari luar. Gua bangun dan keluar dari kamar secara
perlahan.
“Dalam
nama Yesus, dalam nama Yesus, ada kemenangan….” Nyokap gua jalan-jalan sambil
nyanyi salah satu lagu sekolah minggu favorit gue.
Sekilas mirip sama Sadrakh,
Mesakh dan Abednego waktu lagi di dapur api pas gue liat nyokap gua jalan-jalan
sambil nyanyi lagu tadi. Entah apa yang nyokap rasain waktu itu, yang jelas gue
liat air mata yang terus-terusan ngalir dari matanya. Hmmm.
Beberapa hari kemudian, tibalah waktu
persalinan. Bokap tampaknya (sangat tidak) siap kehilangan salah satunya, kalo
gak nyokap, ya adik gue nantinya. Kita pun (Gue dan bokap gue)
Detik demi detik. Menit demi menit.
Masih belum ada suara bayi yang terdengar.
“OOEEEEKKKKKK
OOOEEEEEKKK” Suara bayi terdengar (kira-kira kaya gitu lah)
Bokap langsung buru-buru nyamperin
ruang persalinan.
“Maaf
suster, itu bayi saya?” Tanya bokap gue
“Nama
pasiennya ibu siapa pak?” jawab suster
“Nyonya
Pande Iroot sus”
“Oh
bukan pak, Nyonya Pande Iroot ada di sebelah, masih proses persalinan”
Bokap gue tambah was-was. Kita nunggu
lagi di koridor rumah sakit tadi.
Detik demi detik. Menit demi Menit.
Lamaaaaaaa bangett dah kerasanyaa, lebih lama dari ditinggal LDR-an #ehh #maap
#keceplosan
“OOOEEEEEKKK
OOOOEEEEEEEEEEK” Suara bayi terdengar lagi.
Bokap gue langsung lemes karena bayi
yang nyokap gue lahirin masih hidup, yang berarti nyokap gue yang udah
meninggal.
“Bapak,
ini bayinya” Kata suster sambil menunjuk pada inkubator.
SYURRR… bokap gue nangis hebat
dideket inkubator itu. Gue sedikit mengerti perasaan dia waktu itu. Kehilangan
istri yang dicintain, lebih sakit dari yang diselingkuhin #ehh #maap
#keceplosan #lagi
Lagi sedih-sedihnya, tiba-tiba ada
suara yang sangat sangat familiar ditelinga gue dan bokap gue.
“Papa…”
Ya.
Itu suara nyokap gue tercinta.
“Mama….”
Bokap gue langsung bangkit dan meluk nyokap gue.
A better love story than Twilight.
Better.
Dokter heran karena nyokap gue dan
adik gue yang masih bayi, hidup dua-duanya. Gue percaya, cuma Tuhan yang bisa
lakuin itu. Cuma Tuhan yang bisa matahin vonis dokter sekalipun. Thank you :’)
Bersyukur banget gue masih bisa liat
nyokap gue sampai detik ini. Nyokap adalah sosok yang luar biasa. Sangat.
Lanjut ceritanya ke kuliah gue..
Hari pertama gue kuliah, gue menjalani dengan super
semangat. Efek hari pertama kuliah bray J.
Di hari pertama, gue liat schedule paper gue. Ruang 703. Gue duduk di kelas dan mulai kenalan
sama anak-anak lain. Formalitas. Pas dosen masuk, yang gue harapkan adalah
kuliah ga dimulai sama pelajaran dulu, tapi perkenalan dulu.
“Okay,
nama saya Anna” Begitulah perkenalan dari dosen.
“Wah
dosennya ibu-ibu, jadi ga enak nih perasaan” Pikir gue.
“Jadi
siapa aja disini yang dari jurusan IPS?” Tanya dia,
Gue
ngangkat tangan.
“Cuma
kamu sendiri? Yang lain IPA semua ya?” Tanya dia lagi,
Gue
kaget, karena pas ospek justru anak IPS yang bejibun, lah sekarang
kok cuma satu anak IPS-nya, tapi gue coba buat cool.
1 jam
berlalu dengan penuh angka-angka, mulai dari bilangan biner, bilangan desimal,
bilangan oktal, dan sebangsanya. Bahkan gue yang dari IPS bisa lebih ngerti
dari anak IPA-nya sendiri.
“Eh
yang bilangan oktal itu gimana caranya?” Tanya salah satu anak disebelah gue,
“Oh,
ini Cuma tinggal dibagi delapan, trus blablabla....” Gue menjelaskan dengan
fasih.
“Oh
iya, makasih ya...”
“Iya
sama-sama”
Gue
mikir, “Dia ini anak IPA loh, kok jadi malah pinteran gue?”
Trus
dosen pun akhirnya nge-absen kita satu persatu. Sampai terakhir, nama gue gak
disebut.
“Bu,
nama saya kok gak ada ya?” Gue nanya ke dosennya,
“Nama
kamu siapa?”
“Philip
bu”
“Disini
gak ada tuh, NIM (Nomor Induk Siswa) kamu berapa?”
Karena
gue gak hapal, gue kasih aja schedule
paper gue tadi.
“Kamu
jurusan Sistem Informasi?”
“Iya,
lah ini jurusan apa bu?”
“Ini
Teknik Informatika...”
Oh
Sheet.
“Oh
maaf bu saya salah kelas...”
Sekelas
pun menertawakan gue. Gue berpikir positif aja, seenggaknya gue jadi tenar di
kelas itu J. Gue liat lagi kertasnya. Ruang 705.
“Kok
angka limanya mirip ama tiga ye, efek oleng naik kereta” pikir gue dalem hati,
Akhirnya
gue cari kelas yang seharusnya gue masuki.
TOK
TOK TOK
“Permisi
pak, maaf tadi saya salah kelas...” gue masuk dan meminta maaf,
“Oh
iya gak apa-apa, saya maklumin, baru hari pertama juga kok..” Kata dosen,
“Makasih
pak...”
Dan
saya pun duduk di bangku paling belakang.
Saat istirahat, gue coba buat kenalan duluan sama
anak-anak di kelas (Biar gak dikira sombong).
“Philips…”
“Julius…”
Dan gue kenalan sama beberapa orang
lainnya.
No comments:
Post a Comment